Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

12.12.12


Dua belas. Dua belas. Dua belas.
Sehari tanpa kopi panas.
Membuat wajah terlihat memelas.
Juga tubuh yang mendadak lemas.


Depok, 12.12.12

Rindu

ada segenggam rindu
yang tersisa di sudut hatiku
: untuk dirimu

Depok, 171011

Kesepian

Yang kupelajari dari kesepian
Adalah rembulan yang lenyap tertutup awan
dan hilang diselimuti kesunyian


Palabuhan Ratu, 030911

Aku di Sini

: Trimurti Aditya

aku masih berdiri di sini
menunggumu hingga tak lagi bersembunyi
jika memang ingin hadir kembali
kamu tahu kemana harus mencari


tebet, 02.08.11

Tentang Rindu

Wahai,
kiranya kau di sana menungguku
sambil membunuh waktu
mengusir jemu

Adakah rindu masih tertinggal di hatimu?


tebet, 29.07.11

Kenangan Hujan

Hujan selalu mengingatkan aku tentang kamu;
dimana jutaan rintiknya mengaburkan air mata
juga hempasan dinginnya membekukan hati yang lara
serupa dahaga jiwa yang tak lagi teraba: hampa

depok, 11.02.2011

Lelakiku

Lelakiku,
bukanlah yang terindah yang pernah kutahu
juga bukan yang terhebat yang pernah kumau
tapi dialah yang terkasih yang merasuki hatiku

depok, Desember 2010

tanpa judul

aku ingin menyapa pagi seorang diri
sambil menguntai mimpi yang dihangatkan mentari
: hingga luka hati tak lagi kembali


matarmaja menuju Malang, 30.09.10

Menujumu

mengeja langkah yang tertatih
di tengah hempasan badai putih
menuju puncakmu yang abadi


Gunung Gede, 15.05.10

Meredam Rasa

aku ingin membungkus sejumput rindu yang tertanam di hatiku
ketika rasa yang tak terkata mengubah ucap menjadi air mata
memang bukan untuk membuka luka lama yang terlanjur menganga
tapi sekadar untuk pemuas dahaga jiwa yang tak mampu diredam lama


cipularang, 27.12.09

Makna Rasa

Sebab aku tak tahu makna kabut di balik tatap matamu
akankah itu kelak mengganggu,
atau hanya penghias sinar redupmu?
Serupa langit jingga yang tak lagi merona
karena mendung menggantung di dasarnya



kuningan, 10.11.09

Dalam Bahasa Cinta

Pernah kau bernyanyi dalam bahasa cinta
yang bernada serupa tawa peredam luka.
Sudah. Kau tahu aku telah lelah. Walau tak pernah terlihat resah.

Pernah juga kau memaki dalam bahasa cinta
yang berirama sama dengan air mata pembasuh jiwa.
Sudah. Pasrah dan terdengar kalah. Walau kau tahu
aku takkan pernah menyerah.


kuningan, 10.03.09

Aku Tanpamu

sepuluh malam terlanjur kulewati
tanpa meratap, apalagi mencaci diri
hanya kawan dan lawan yang datang silih berganti
menyapa perih yang tertinggal di suatu hari

berpuluh malam telah berubah menjadi pagi
gemintang pun bersembunyi digantikan mentari
namun mengapa dirimu tibatiba kembali
di saat rinduku hendak pamit pergi


kuningan, 06.03.09

Edelwisku

Edelweisku,
siang ini mentari lagilagi bersembunyi
di balik gumpalan awan yang menghitam, juga kabut yang terasa mencekam

mungkin dia malu dengan hadirku
yang merasa dahaga akan indahmu
hingga benarbenar tak ingin aku beranjak dari sisimu

atau mungkinkan ia cemburu kepadaku, Edelweis?


kuningan, 06.03.09

Telah Lepas

(oleh2 dari Tangkuban Perahu)

Sayangku,
telah kulepas rindu di antara deret rumpun edelweis yang bergoyang mesra,
juga asap kawah yang menimbulkan air mata
agar kuyakin takkan ada lagi rasa yang tersisa

tol purbaleunyi, 01.03.09

Tentang Kita

aku...
bagai oase di tengah Sahara
penyejuk cinta tanpa kata,
yang menawarkan sebongkah tawa di tengah derai air mata

kamu,
bagai riak di tengah samudera
terlihat tak berbahaya, namun mampu menenggelamkan banyak jiwa
yang menggeletar seperti ikan meregang nyawa

kita...
bagai gletser di Antartika
yang meleleh resah terpapar panasnya mentari jingga,
lalu mengalir ke aliran sungai tanpa nama
sambil menyanyikan nadanada penghapus luka


cemput, 25.02.09

Katamu

Katamu,
dialah perempuan itu
bergaun merah jambu,
kemana matamu selalu tertuju

Katamu lagi,
ini malam yang selalu dinanti
selangkah menuju pagi
menjelang hari yang tak pasti

Tapi kenapa tiba-tiba kamu malah berkata,
"Aku mau kamu, bukan perempuan itu"?
padahal kamu tahu,
air matanya telah mengering di sana
di tempat ia mengharap cinta

jkt, 02.02.09

Kau dan Senyummu

(akibat pagi2 dapat 2 dopping, akhirnya jadi begini deh... ;p)

titik embun masih menggantung di pucukpucuk daun
saat kau menghias rupamu dengan senyum yang membuatku tertegun
lalu tanpa mengucap apaapa, kau menghampiri dan menjabat tanganku yang mendadak kaku
hingga diamdiam aku menyenandungkan sebuah lagu
"inikah oh rasanya, insan sedang jatuh cinta, mengapa..."

aaahh, "mengapa"
tanya itu terlontar sudah
seperti jutaan sperma yang memuncrat ketika hasrat tidak lagi dapat terkata
seperti juga bintangbintang yang tergambar di depan mata,
ketika orgasme mengaburkan katakata

kau, dengan senyum yang tersembunyi di sudut bibir yang terkulum, menatapku malumalu
tidak dengan kalimat yang merayu, juga tanpa katakata yang melagu

oh,
tahukah kau bahwa aku mencintaimu tanpa ragu?


jkt, 19.12.08

Kaukah Itu (2)

di pintu kau tak beranjak
dengan T-shirt ungu menunggu
dan tatapan itu begitu mengganggu
meski semalam ingin kubiarkan berlalu

saat kau pergi
dengan kilasan senyum perih
bayangmu tak juga menepi
ada nyeri yang tak pernah kusadari

di meja masih ada cawan itu
dengan air katakata darimu
yang pernah kau berikan
saat senja menemani kita

ada isak membisu
dengan air mataku di situ
serta tanya yang seperti dulu
apakah cinta telah genangi diriku?

Elegi Pagi

tibatiba dia menyapaku pada suatu pagi
saat mentari lagilagi menyembunyikan diri
di balik gumpalan awan yang menghitam dan terdiam muram

langkahku berkalikali terantuk
mendengar suaranya yang berubah sendu
tidak lagi melagu seperti dulu dia merayuku

“dia menghempas rindu yang pernah kutitipkan dulu,”
begitu katanya dengan nada pilu

aku terpana dengan kepala yang dipenuhi ribuan cerita
tentang masa dimana dia kerap membakar sepiku
dengan kelakar yang membuat senyumku melebar

tapi kini, semua seolah berputar
ada saat hujan itu mengalir dari mata seorang lelaki
ketika ucap tidak lagi penuh makna,
dan caci tidak lagi dapat terkata

jkt, 05.12.08

Jejak Langkah